TAHUN 2012 ditetapkan sebagai target pencapaian swasembada garam nasional untuk kebutuhan konsumsi. Sedangkan target swasembada garam industri ditetapkan tercapai pada 2014.
Untuk mencapai target tersebut, tahun ini pemerintah membentuk Tim Swasembada Garam Nasional yang berada di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian. Anggotanya terdiri dari departemen dan kementerian-kementerian terkait.
Departemen Kelautan dan perikanan (DKP) ditetapkan bertanggungjawab pada pencapaian swasembada garam konsumsi, sedangkan Departemen Perindustrian pada pencapaian kebutuhan swasembada garam industri.
“Pembagian tugasnya, Departemen Perindustrian lebih focus pada pola investasi dan ekstensifikasi,” terang Sudirman Saad, Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), DKP.
Untuk mewujudkan swasembada garam konsumsi, pada 2011 ini pemerintah mengucurkan dana sebesar Rp90 miliar. Dana itu antara lain akan digunakan untuk mendirikan atau bekerjasama dengan koperasi yang sudah ada untuk menampung hasil panen para petambak garam.
Di tahap pertama, akan dipilih 15 ribu petambak garam di Sembilan sentra garam Indonesia sebagai proyek percontohan. Ke 15 ribu petambak itu akan dibagi menjadi 2.171 kelompok, dan masing-masing kelompok akan mendapat bantuan Rp50 juta.
“Mereka akan mendapat pelatihan penggunaan teknologi atau peralihan dari petambak tradisional menjadi semi modern agar bisa meningkatkan kualitas garam yang dihasilkan. Ini menjadi bagian dari Program pemberdayaan Usaha Garam Nasional atau PUGAR yang sudah dicanangkan sejak akhir 2010,” terang Sudirman.
Kesembilan sentra garam tersebut, ialah Kabupaten Indramayu, Cirebon, Pati, Rembang, Sampang, Sumenep, Pamengkasan, Tuban dan nagekeo, NTT.
Di lapangan, kini Direktorat Jenderal KP3K mulai melakukan inventarisasi untuk menentukan ke-15 ribu petambak garam yang akan diikutkan dalam program tersebut.
Sudirman yakin, tahun depan swasembada garam konsumsi bakal bisa terwujud. Pasalnya, teknologi yang akan dipakai dan ditularkan ke para petambak bisa meningkatkan hasil produksi dari rata-rata 60 ribu ton perhektare menjadi 100 ribu ton perhektare.
“Sekitar Juni ini para petambak sudah harus terpilih, dan Juli mereka sudah bisa mulai menerapkan teknologi semi modern yang ditularkan. Tiga bulan ke depan sejal Juli, panen garam sudah bisa dilakukan,” ujar Dirman.
Garam yang dihasilkan para petambak binaan akan diserap langsung oleh koperasi yang sudah dibentuk atau koperasi lama yang dipilih dan sudah dikuatkan modalnya. Dari koperasi akan disalurkan ke PT Garam atau pun ke pengusaha-pengusaha yang mau berinvestasi di pengelolaan garam.
“Sambil berjalan, Departemen Perindustrian tengah mengupayakan kerjasama dengan PT Garam dan juga berusaha mendatangkan investor-investor baru yang tertarik dalam pengelolaan garam,” ujar Sudirman. Dia menambahkan, ada sekitar 15.033,41 hektare tambak garam yang akan digarap di Sembilan sentra garam yang menjadi proyek percontohan.
Foto: Antara/Tulisan: publish media indonesia 25 Mei 2011




